Friday, April 3, 2009

1

SEJARAH BATAK

Posted in
Versi Sejarah Batak mengatakan bahwa Raja Batak datang dari Thailand, teus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula-mula, satu daerah dikawasan pinggiran Danau Toba tepatnya lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan. Diperkirakan si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke 13). Raja Sisingamangaraja XII adalah salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke 19 ( wafat sekitar thn 1907) , maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke -20.


Prasasti yang ditemukan di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan bermukim 1,500 orang Tamil di Barus.Tahun 1275 Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang lawas. Sekitar tahun 1.400 kerajaan Nakur berkuasa disebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.


Dari kejadian diatas dapat disimpulkan bahwa : Si Raja Batak adalah seorang pejuang dari Timur Danau Toba (Simalungun), dari Selatan Danau Toba (Portibi), dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus
Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya dimana ketika itu Si Raja Batak merupakan pejabat di kerajaan Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).

Akan halnya pemberian gelar Raja kepada orang Batak umumnya bukan dikarenakan adanya wilayah atau rakyat yang diperintah/pimpin, hal ini diberikan atas penghormatan semata. Selanjutnya menurut Buku Tarombo Borbor Marsada anak si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu :
GURU TETEABULAN (Raja Lontung)
RAJA ISUMBAON (Raja Sumba)
TOGA LAUT

Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak. Yang disebut wilayah Tanah Batak atau Tano Batak ialah daerah hunian sekeliling Danau Toba, Sumatera Utara. Seandainya tidak mengikuti pembagian daerah oleh Belanda seperti sekarang Tanah Batak konon masih sampai di Aceh Selatan dan Aceh Tenggara.

Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara georafis dibagi sbb :
Batak Toba (Tapanuli) : mendiami Kabupaten Tapanuli Utara, Kab Tobasa, Kab. Toba Samosir, Kab. Toba Hasundutan, Kab. Tapanuli Tengah yang menggunakan Bahasa Batak Toba. Batak Simalungun : mendiami Kab. Simalungun, sebagian Deli Serdang menggunakan bahasa Batak Simalumgun. Batak Karo : mendiami Kab. Karo, Kab. Langkat dan sebagian Aceh menggunakan bahasa Batak Karo. Sub etnis ini juga bersikukuh tidak mau disebut sebagai orang Batak. Menurut Prof. Dr. Henry G Tarigan ( IKIP Negeri Bandung) sudah ada 84 sebutan nama marga orang Karo. Itu sebabnya orang Karo tidak sepenuhnya berasal dari etnis Batak, karena adanya pendatang kemudian bergabung, misalnya marga Colia, Pelawi, Brahmana. Selama ini di Tanah Karo dikenal adanya Merga Silima ( 5 marga). Batak Mandailing : mendiami Kab. Tapanuli Selatan, Wilayah Pekantan dan Muara Sipongi menggunakan bahasa Batak Mandailing Batak Pakpak ; mendiami Kab Dairi, sebagian Aceh Selatan menggunakan bahasa Pakpak. Sebagian kecil orang Pakpak tidak mau disebut orang Batak karena sebutan MPU Bada tidak berkaitan dengan kata Ompu Bada dalam bahasa Batak . Kata MPU menurut etnis Pakpak setara dengan kata MPU yang berasal dari gelar di Jawa ( MPU Sendok, MPU Gandring).

Dalam buku Aneka Ragam Budaya Batak ,(“ Seri Dolok Pusut Buhit -10 “) terbitan Yayasan Binabudaya Nusantara, TaoToba Nusa Budaya, 2000, hal 31, menyebutkan bahwa etnis Batak bukan hanya 5 akan tetapi sesungguhnya ada 11 (sebelas), ke 6 etnis Batak lainnya yaitu :
Batak Pasisir ; bermukim diwilayah Pantai Barat antara Natal dan Singkil Batak Angkola ; wilayah Sipirok dan Padang Sidempuan. Batak Padanglawas ; wilayah Sibuhuan, Aek Godang, Rambe, Harahap Batak Melayu ; wilayah Pesisir Timur Melayu Batak Nias ; wilayah Kab. Nias dan sekitarnya. Batak Alas Gayo ; wilayah Aceh Selatan, Aceh Tenggara, dan Tengah.

Batak Alas Gayo ; Beberapa dialek didaerah Alas dan Gayo sangat mirip dengan dialek bahasa batak. Demikian juga nama Si Alas dan Si Gayo ada dalam legenda dan tarombo Batak. Dalam tarombo Batak Laklak ( tarombo pohon beringin ) yang dilukis cukup indah oleh L. Sitio ( 1921 ) nama si Jau Nias, dan si Ujung Aceh muncul setara nama Sorimangaraja atau si Raja Batak I. Disusul kemudian hadirnya si Gayo adan si Alas setara dengan si Raja Siak Dibanua yang memperanakkan Sorimangaraja kakek dari si Raja Batak.



Comments
1 Comments

1 comment:

Berikan komentar anda disini!

YOUR MESSAGE....